Dongeng Lembah Kapuk

Mungkin banyak dari kalian yang tidak paham dengan apa yang tertuang disini. Dongeng tentang sebuah lembah yang membuat cara komunikasi segelintir orang berubah. Inilah tulisan tentang sebuah lingkungan tempat gue tumbuh selama satu dekade yang hadir sebagai muara bagi pertanyaan “Apa itu Kapuk Valley dan apa keistimewaannya?”. Peringatan: tulisan ini banyak sekali menggunakan istilah-istilah dalam jaringan komputer.

Hidup Sebagai Freelancer

Mengapa Freelance? Apa yang salah dengan menjadi pegawai yang setiap bulan terima gaji walaupun sedang tidak ada kerjaan? Entah bagaimana dengan Freelancer yang lain, cuma gue sempat merasa konyol menjadi pegawai sewaktu menerima side job yang cuma butuh waktu dua minggu tapi fee nya hampir sama dengan gaji sebulan.

My new roommate

Beberapa bulan yang lalu temen gue, Rere, menitipkan seekor kucing betina piaraannya ke gue, berhubung dia udah ga bisa lagi memelihara kucing tersebut di kosannya. Namanya Dede. Umurnya baru beberapa bulan sewaktu dititipkan ke gue. Bulunya agak lebat dan halus mirip anggora, berwarna putih dari kepala sampe ekor. Ada bonus dua buletan abu-abu di kepalanya, mirip tanda dahi orang yang rajin sholat, sehingga muncul rumor Dede rajin sholat [-_-]’

Google Wave

Sekitar dua bulan yang lalu gue sedang ngobrol dengan bos gue soal mobile technology, dimana dia memberikan gambaran ke gue tentang mobile technology ke depannya. I must admit that he has a great vision about technology forecasting beyond any smart people I ever met. “Pernah denger Google Wave?” tanya dia pas kami lagi ngebahas raksasa industri IT. Gue blank, I have no idea. Gue familiar dengan kata “weave” karena gue pernah akrab dengan macromedia dreamweaver dan netweaver studio. Kali ini gue mendengar kata “wave” yang melekat pada nama sebuah raksasa IT. Any words that attach to Google always sounds cool 😀 Setelah bertanya langsung pada sang empu aplikasi baru gue agak ngerti apa itu Google Wave.

Sebuah Wawancara

Oh tidak, gue bukan sedang nyari gawean baru. Kebetulan gue udah nyaman dengan kantor gue yang sekarang. Ini adalah wawancara dengan orang dari sebuah majalah (bukan dari majalah lifestyle tentunya) yang kebetulan tertarik dengan cerita tentang kapuk valley (okeh, isi situs nya emang mengecewakan. tapi masalahnya hal yang menarik di Kapuk Valley itu justru datang dari kondisi offline!). Walaupun di blog gue ada kategori Kapuk Valley tapi ironisnya gw blum pernah crita tentang apa itu Kapuk Valley. Next post aja lah yah. Berikut cuplikan wawancara dengan sang reporter.

Dari Kelurahan, Kecamatan, hingga Walikota Depok

Komunitas Kapuk Valley Network baru-baru ini baru saja menerima beberapa member baru. Berbeda dengan member-member yang ada, member kali ini yang bergabung adalah Kepala Kelurahan Pondok Cina, Kepala Kecamatan Beji, dan Bapak Walikota Depok. Komunitas Kapuk Valley pun geger.

Gw dan Waktu

Gue baru aja dari blog nya Yodhia Antariksa dan ngebaca resensi buku yang berjudul Five Minds For The Future yang memaparkan tentang pola lima pikir yang membangun. Penjelasannya begitu ringkas dan ringan dan bisa memberikan gambaran tentang isi buku secara keseluruhan. Walaupun sebenarnya gue ga tertarik membeli buku kayak gitu karena gue lebih sering tertidur daripada memahami isi dari itu buku pas ngebacanya 😀 Poin-poin yang disebutkan udah cukup jadi inspirasi buat gue, buat otak malas gue yang mulai menurun produktivitas nya.

Sangkuriang Session

First of all, gue mue ngucapin selamat buat temen sekantor gue, yulia alias Maki (Mama Kintan) yang baru aja launching baking site nya. jujur, gue kagum banget ama ini orang. dia punya 3 pekerjaan yang di lakukan secara concurrent: pegawai kantor, ibu rumah tangga, baker, DAAAAN.. blogger. Btw, speed nge-blog nya bisa mencapai 4 ppd (posting per day, bukan patas :-p ). Heran, kok gue susah bener nulis blog yah, sampe blog gue pun menderita “hibernate” gini kayak gue. hhhh…:-S lu makan apa sih yul? 😕