Go-Jek: Fenomena dan Kelemahannya

Go-jek saat ini sedang jadi fenomena yang luar biasa bagi masyarakat di kota-kota besar di Indonesia, khususnya di Jakarta. Gue pertama kali mendengar berita tentang Go-Jek sekitar tahun 2010, waktu itu sistem pemesanannya masih pake SMS, telpon dan juga Twitter. Go-Jek menjadi booming sejak sang founder, Nadiem Makarim, memutuskan untuk fokus mengembangkan Go-Jek, perkembangannya secara mengejutkan melesat cepat sejak awal Januari 2015 kemarin dengan diluncurkannya aplikasi Go-Jek. Gue sendiri menjadi pengguna aktif kurang lebih sejak dua bulan setelah aplikasinya diluncurkan. Setelah beberapa bulan menggunakan Go-Jek, ada beberapa hal yang menurut gue menjadi kelemahannya, bahkan ada yang cenderung merugikan.

Apple in My Life

Gue bukan Apple fanboy dan gue juga tidak membenci PC. Tiga tahun belakangan ini gue hampir tidak pernah menggunakan PC. Baru 3 bulan terakhir gue kembali menggunakan PC untuk membagi fokus kerja. Berhubung tempat gue kerja sekarang memberikan PC, jadi rasanya sayang aja kalo ga dimanfaatkan. Tulisan gue kali ini mengenai pengalaman gue sebagai pengguna PC yang beralih ke Mac.

Google Wave

Sekitar dua bulan yang lalu gue sedang ngobrol dengan bos gue soal mobile technology, dimana dia memberikan gambaran ke gue tentang mobile technology ke depannya. I must admit that he has a great vision about technology forecasting beyond any smart people I ever met. “Pernah denger Google Wave?” tanya dia pas kami lagi ngebahas raksasa industri IT. Gue blank, I have no idea. Gue familiar dengan kata “weave” karena gue pernah akrab dengan macromedia dreamweaver dan netweaver studio. Kali ini gue mendengar kata “wave” yang melekat pada nama sebuah raksasa IT. Any words that attach to Google always sounds cool 😀 Setelah bertanya langsung pada sang empu aplikasi baru gue agak ngerti apa itu Google Wave.

Sebuah Wawancara

Oh tidak, gue bukan sedang nyari gawean baru. Kebetulan gue udah nyaman dengan kantor gue yang sekarang. Ini adalah wawancara dengan orang dari sebuah majalah (bukan dari majalah lifestyle tentunya) yang kebetulan tertarik dengan cerita tentang kapuk valley (okeh, isi situs nya emang mengecewakan. tapi masalahnya hal yang menarik di Kapuk Valley itu justru datang dari kondisi offline!). Walaupun di blog gue ada kategori Kapuk Valley tapi ironisnya gw blum pernah crita tentang apa itu Kapuk Valley. Next post aja lah yah. Berikut cuplikan wawancara dengan sang reporter.

Dari Kelurahan, Kecamatan, hingga Walikota Depok

Komunitas Kapuk Valley Network baru-baru ini baru saja menerima beberapa member baru. Berbeda dengan member-member yang ada, member kali ini yang bergabung adalah Kepala Kelurahan Pondok Cina, Kepala Kecamatan Beji, dan Bapak Walikota Depok. Komunitas Kapuk Valley pun geger.

Si sexy itu bernama Dopod D810

Yap, itu yang jadi salah satu daya tariknya yang bikin gue tergila-gila ama smartphone yang satu ini 8-} Adanya dukungan 3G di PocketPC yang satu ini bikin gue rela buat ngelepas Nokia 6630 walaupun musti membayar mahal 🙁 Tadi siy niatnya pengen ganti Dopod D818 Pro, tapi sayang Dopod D818 Pro udah gak diproduksi lagi. Mo beli second juga nanggung, pada lecek smua barangnya 🙁

Taiwan Down! Taiwan Down!

Begitu hebohnya berita tentang gempa tsunami yang menimpa Taiwan, Selasa (26/12/2006). Gempa berkekuatan 7,1 SR itu bukan cuma mengguncang Taiwan dan sekitarnya, tapi juga mengguncang seluruh dunia dengan putusnya jalur koneksi internasional dikarenakan putusnya kabel fiber optik bawah laut yang menjadi koneksi backbone internasional bagi negara-negara kawasan Asia Pasifik.