Desperado Programmers at Banjarmasin

Saat ini gue dan 2 orang temen kantor sedang ada tugas di Banjarmasin terkait project dengan salah satu klien kantor. Kami menginap di hotel berjudul VICTORIA. Sepintas hotel ini kelihatan seperti rangkaian ruko bertingkat tiga yang keliatannya seperti hotel murahan, tapi ternyata tampak luarnya berbeda banget dengan isinya. Kalo dilihat dari interiornya, hotel ini sama sekali gak mencerminkan hotel murahan. Harga kamarnya aja sekitar 400-an ribu permalam.

Andalan dari hotel ini adalah River View, yaitu pemandangan sungai yang terletak persis dibelakang hotel tersebut. Yahh, kalo dibandingkan dengan Beach View jelas gak ada apa-apanya. River View menampilkan pemandangan sungai dengan pemukiman penduduk dipinggirnya dan juga lalu lintas perahu yang digunakan untuk menyeberang dari satu sisi ke yang lainnya. Fasilitas kamar yang disediakan juga cukup memadai, ada lemari pakaian, shower, tv cable, 2 bed, dan mini bar (kulkas berisi minuman ringan). Hotel ini juga dilengkapi dengan fasilitas hotspot dengan tarif Rp. 15.000 per jam, cuma sayang sinyalnya gak cukup kuat untuk diakses melalui kamar, jadi kalo mau internetan musti turun ke lobby dulu.

Cukup dengan promosi hotelnya. Sebenarnya kerjaan kami disini cukup simple: cuma memastikan suatu mesin bernama HLR (Home Location Register) bisa menerima serangkaian perintah dari third party software. Seharusnya hal ini bisa dilakukan secara jarak jauh (remote), tapi berhubung mesin tersebut belum terhubung dengan kantor pusat di Jakarta jadi untuk testing harus dilakukan ditempat (on-site). Vendor mesin ini berasal dari China, dan untuk proses testing ini sendiri melibatkan orang-orang dari China. Ada dua kendala yang kami hadapi selama masa testing ini. Pertama adalah bahasa, bahasa inggris mereka susah untuk dimengerti karena pengucapannya bercampur aduk dengan dialek mandarin yang kental. Dan yang kedua, ketidaksiapan dari mesin HLR itu sendiri yang membuat waktu testing menjadi molor, dari yang direncanakan cuma 2 hari menjadi 4 hari dan belum juga selesai sampai tulisan ini dibuat. Kami merencanakan untuk memperpanjang masa tinggal selama 2 hari dan apabila selama waktu tersebut testing belum juga selesai kami terpaksa meninggalkan Banjarmasin dengan hasil testing seadanya.

Telkom STO Centrum Banjarmasin 

Terus terang, kami gak begitu betah berada di Banjarmasin. Gak tau kenapa, mungkin karena cuaca yang panas dan sedikitnya tempat nongkrong yang menyenangkan buat ngilanging stres, lagipula kami gak punya cukup waktu buat keliling kota Banjarmasin sekedar untuk nyari tempat-tempat bagus untuk dikunjungi atau nyari souvenir yang bisa dibawa pulang buat oleh-oleh. Belum lagi ada isu yang bilang kalo Banjarmasin masi kental dengan mistik. Menurut cerita salah satu temen kantor, pernah ada seorang reporter dari salah satu perusahaan tv yang datang ke banjarmasin untuk meliput dan tidak kembali ke Jakarta karena terkena pelet, hwahwahwahwa.. spooky! 😐

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *