Etalastic: Cikal Bakal Qasir dan Kesalahannya

Buat yang baru pertama kali mendengar tentang Qasir, berikut penjelasan singkatnya:

Qasir adalah ekosistem dagang yang memberikan kesempatan ekonomi yang sama bagi UMKM melalui teknologi. Qasir memberikan akses terhadap teknologi pengelolaan usaha, distribusi barang, dan pembiayaan usaha.

Sebelumnya diluncurkan dengan nama Etalastic pada Agustus 2016, pengucapannya bikin lidah orang Indonesia suka kepleset. Kadang ada yang nyebut elastic, kadang etastic, kadang estatic 🙁 Awal 2017 nama Etalastic diubah menjadi Qasir agar lebih mudah diucapkan dan gampang diingat, khususnya di kalangan pedagang. Etalastic sendiri pada saat diluncurkan masih sebuah aplikasi Point of Sale sederhana dengan fitur yang minimalis.

Tampilan situs Etalastic pada saat diluncurkan

Proses perancangan Etalastic bisa dibilang cukup idealis karena pada saat itu tim Etalastic kebanyakan adalah engineer. Kami ingin aplikasi tersebut menggunakan teknologi yang terbaik dan bisa berjalan dengan cepat. Setelah melakukan riset singkat, kami pun memilih Node.jsMongoDB, dan Android sebagai tech stack kami karena pada saat itu ada beberapa startup yang muncul dengan mengusung teknologi tersebut dan aplikasi mereka cukup nyaman digunakan karena responnya yang cepat.

Berhubung pada saat itu tidak ada satupun dari kami yang menguasai Node.js dan MongoDB, maka salah seorang dari tim Etalastic mulai belajar mengenai kedua teknologi tersebut secara intensif. Kalo ga salah, waktu itu Node.js yang tersedia baru versi 2 dan masih banyak kekurangannya. Untuk database sendiri, kami memilih pendekatan single-tenant architecture, dimana satu user dibuatkan satu schema (kami akhirnya menyadari ini adalah suatu kesalahan fatal dan kami melakukan migrasi ke multi-tenant architecture di akhir 2018). Proses development Etalastic berjalan kurang lebih selama 3 bulan, dan itu adalah 3 bulan yang cukup melelahkan. Bukan hanya proses belajarnya yang memakan waktu dan energi, proses debugging atau menemukan error dalam aplikasi juga cukup sulit karena keterbatasan dari Node.js pada saat itu. Karena sudah mendekati target launching, kami pun memaksakan MVP dari Etalastic untuk launch di Agustus 2016, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, walaupun aplikasinya masih jauh dari kesiapan untuk launch.

Saat launching kami menghubungi calon pengguna yang sempat menyatakan tertarik untuk mencoba aplikasi Etalastic. Dari sekitar 100 calon pengguna, kurang dari 10 orang yang benar-benar mencoba aplikasi Etalastic. Kami ga heran karena memang pada saat launching, Etalastic belum bisa berjalan dengan baik karena masih banyak error di sana sini sehingga belum bisa dibilang layak untuk digunakan sehari-hari. Walaupun penggunanya sedikit, kami menerima cukup banyak masukan dari mereka dan karena hanya satu orang yang memahami source code Etalastic, proses perbaikannya sangat lambat. Ini diperburuk pada saat yang bersangkutan harus ngambil cuti selama beberapa hari. Proses development, khususnya dari sisi backend, nyaris ga ada pergerakan karena ga ada yang memahami source code nya sebaik dia.

“Insiden cuti” ini cukup menjadi pukulan buat kami karena kami kehilangan banyak waktu dan momentum yang bikin user kami yang segelintir itu kabur. Di titik ini kami belajar bahwa ada yang jauh lebih penting dari teknologi canggih, yaitu Time To Market. Percuma bikin aplikasi dengan teknologi canggih kalo user ga bisa merasakan manfaat dari aplikasi yang kami buat. Akhirnya kami mengambil keputusan yang cukup ekstrim, mengganti Node.js dan MongoDB dengan teknologi yang semua engineer kami kuasai: PHP dan MySQL. Semua engineer, baik backend dan mobile bekerja keras membangun kembali semua source code dari awal dan pengerjaannya bisa dibilang sangat cepat. Hanya dalam 2 minggu kami berhasil relaunch aplikasi Etalastic tanpa ada gangguan pada user experience.

Setelah relaunch bisa dibilang proses development jauh lebih lancar. Ada fitur-fitur baru yang dirilis, banyak error yang berhasil diperbaiki, akuisisi pengguna juga mulai naik, dan yang paling penting kepercayaan diri tim engineering meningkat karena mereka jadi tahu persis apa yang mereka rilis ke user akan berjalan sesuai dengan ekspektasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *