Sangkuriang Session

First of all, gue mue ngucapin selamat buat temen sekantor gue, yulia alias Maki (Mama Kintan) yang baru aja launching baking site nya. jujur, gue kagum banget ama ini orang. dia punya 3 pekerjaan yang di lakukan secara concurrent: pegawai kantor, ibu rumah tangga, baker, DAAAAN.. blogger. Btw, speed nge-blog nya bisa mencapai 4 ppd (posting per day, bukan patas :-p ). Heran, kok gue susah bener nulis blog yah, sampe blog gue pun menderita “hibernate” gini kayak gue. hhhh…:-S lu makan apa sih yul? 😕

Okeh, gue mue nge-dongeng dulu. Sekarang kerjaan gue udah kembali normal, setelah sebelumnya sekitar 6 bulan “puasa coding” karena tiap hari harus ke client “cuma” buat meeting seharian. Gue mulai nikmatin lagi nature gue sebagai programmer, lalu tiba2 atasan gue dengan ajaib nya nunjuk gue sebagai manager divisi solution architect & research lengkap dengan tasklist yang seukuran kuda nil, sukurnya sekarang kuda nil nya udah se gede kambing dan siap di kurban. And then, here comes the second *boom*: dua project kuda nil lain (dari habitat yang berbeda) yang tadinya “hibernate” selama setahun tiba2 aja bangun dan bikin panik tim yang lagi sibuk dengan kambing2 nya (ada kucing binal juga sih, alias imut ngegemesin tapi kadang suka nyakar). dua project pun jalan dengan deadline 3 bulan terhitung mulai dari Desember 2007. So, mulai dari desember 2007 hingga berikutnya yang terjadi adalah, kambing2 di iket di pohon (sebagian lagi terlantar dan nyari rumput suka suka) dan seluruh tim menggembala dua ekor kuda nil sekaligus.

Sebenarnya dua project ini bukan project baru, tapi enhancement dari project lama tapi dengan menggunakan teknologi baru, dimana versi lama PL/SQL based dan versi baru Java based. Sebagian besar item pekerjaan nya juga tinggal “copy-paste” dari project2 yang ada ataw dari project yang mirip. Dan dari kedua project ini yang bikin gue panik seminggu belakangan justru bukan masalah konversi dari PL/SQL ke Java. Kedua project tersebut punya Web based GUI (Graphical User Interface). Kalo untuk urusan web maka biasanya tim menggunakan Apache Tomcat Servlet, tapi atasan gue dengan cerdas nya memerintahkan untuk membuat Servlet Container sendiri, from scratch! Alasannya cukup simple: optimasi penggunaan object. Untung Beliau sempet bikin working-prototype nya, dan selanjutnya menjadi tugas divisi gue buat mengembangkannya hingga bener2 aman untuk digunakan pada lingkungan operasional. Binatang ini diberi nama: Wadah Serbet (plesetan Servlet Container). Btw, Servlet container dari tomcat emang berisi ratusan object untuk keperluan yang generic (umum) sementara aplikasi yang dibuat cuma perlu beberapa object aja (belakangan gue baru taw kalo beberapa itu tidak se-beberapa yang gue bayangkan).

Demi menghemat waktu, gue campakkan idealisme dan mulai ngebongkar source code winstone yang gue anggap cukup stabil dan lebih mudah di pelajari ketimbang tomcat / jetty / dll. Sesekali gue ngelongo ngeliat source code nya karena trus terang pengetahuan gue tentang best practice OOP di java rada minim maka dengan gerakan pelan dan mata nanar (jam 5 pagi. red) gue coba ngikutin algoritma winstone dan berhasil memetakan beberapa object di winstone ke wadah serbet yang sekarang udah bisa memproses request lengkap dengan session dan cookie.

Alarm: 18 Februari internal test, dan 28 Februari UAT. Mampus gue! >.<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *