Satu Dekade Tsunami Aceh

Hari ini, satu dekade sejak tsunami melumpuhkan daerah Aceh dan sekitarnya, menyisakan luka dan trauma yang mendalam bagi mereka yang mengalaminya. Saya tidak berada disana saat musibah terjadi, tapi mendengar cerita dari apa yang dialami oleh keluarga dan teman dekat saya cukup membuat saya bisa membayangkan dengan jelas apa yang mereka alami. Ini yang membuat saya merinding saat menonton film 2012 sementara sebagian besar orang berpendapat film tersebut biasa saja. Mereka tidak tahu rasanya memiliki ibu yang nyaris diterjang ombak setinggi pohon kelapa.

Hidup Sebagai Freelancer

Mengapa Freelance? Apa yang salah dengan menjadi pegawai yang setiap bulan terima gaji walaupun sedang tidak ada kerjaan? Entah bagaimana dengan Freelancer yang lain, cuma gue sempat merasa konyol menjadi pegawai sewaktu menerima side job yang cuma butuh waktu dua minggu tapi fee nya hampir sama dengan gaji sebulan.

My new roommate

Beberapa bulan yang lalu temen gue, Rere, menitipkan seekor kucing betina piaraannya ke gue, berhubung dia udah ga bisa lagi memelihara kucing tersebut di kosannya. Namanya Dede. Umurnya baru beberapa bulan sewaktu dititipkan ke gue. Bulunya agak lebat dan halus mirip anggora, berwarna putih dari kepala sampe ekor. Ada bonus dua buletan abu-abu di kepalanya, mirip tanda dahi orang yang rajin sholat, sehingga muncul rumor Dede rajin sholat [-_-]’

Sebuah Wawancara

Oh tidak, gue bukan sedang nyari gawean baru. Kebetulan gue udah nyaman dengan kantor gue yang sekarang. Ini adalah wawancara dengan orang dari sebuah majalah (bukan dari majalah lifestyle tentunya) yang kebetulan tertarik dengan cerita tentang kapuk valley (okeh, isi situs nya emang mengecewakan. tapi masalahnya hal yang menarik di Kapuk Valley itu justru datang dari kondisi offline!). Walaupun di blog gue ada kategori Kapuk Valley tapi ironisnya gw blum pernah crita tentang apa itu Kapuk Valley. Next post aja lah yah. Berikut cuplikan wawancara dengan sang reporter.

Gw dan Waktu

Gue baru aja dari blog nya Yodhia Antariksa dan ngebaca resensi buku yang berjudul Five Minds For The Future yang memaparkan tentang pola lima pikir yang membangun. Penjelasannya begitu ringkas dan ringan dan bisa memberikan gambaran tentang isi buku secara keseluruhan. Walaupun sebenarnya gue ga tertarik membeli buku kayak gitu karena gue lebih sering tertidur daripada memahami isi dari itu buku pas ngebacanya 😀 Poin-poin yang disebutkan udah cukup jadi inspirasi buat gue, buat otak malas gue yang mulai menurun produktivitas nya.

Sangkuriang Session

First of all, gue mue ngucapin selamat buat temen sekantor gue, yulia alias Maki (Mama Kintan) yang baru aja launching baking site nya. jujur, gue kagum banget ama ini orang. dia punya 3 pekerjaan yang di lakukan secara concurrent: pegawai kantor, ibu rumah tangga, baker, DAAAAN.. blogger. Btw, speed nge-blog nya bisa mencapai 4 ppd (posting per day, bukan patas :-p ). Heran, kok gue susah bener nulis blog yah, sampe blog gue pun menderita “hibernate” gini kayak gue. hhhh…:-S lu makan apa sih yul? 😕

Ketika gue berpikir untuk kembali menjadi musisi

Salah seorang temen band gue waktu smp ngirimin CD yang isinya satu buah lagu hasil ciptaannya untuk ikutan idol song competition (oh no!). Lagu tersebut di rekam di studio pribadinya dia dengan bantuan vokalis dan drummer band gue waktu smp juga. Jadi critanya, telah terjadi reuni band semasa smp tanpa gue! >.<
Gue kaga terima, gue protes! Sebuah SMS protes terkirim, “kok ga ngajak?!”, dan sebuah balasan diterima, “nanti, kalo kaw dah balek ke banda aceh” … [-_-]’