Takut bikin startup? Ini cara amannya

Banyak orang yang semangat banget dengan idenya untuk bikin startup tapi sedikit yang benar-benar memulai bikin karena takut dengan resikonya. Nah, di artikel ini gue akan bagikan cara memulai sebuah startup yang aman berdasarkan pengalaman pribadi gue memulai startup di tahun 2015.

Bagi sebagian besar orang bikin startup itu sangat menyeramkan karena harus melepas kenyamanan seperti gaji besar, fasilitas kantor yang cihuy, ditambah lagi tunjangan dan bonus yang menggiurkan. Apalagi kalo udah punya tanggungan anak dan istri, waduh makin puyeng deh mikirin cicilan rumah, biaya sekolah anak, dan lain-lain. 

Sebelum kita mulai, gue mau kita sepakati dulu untuk beberapa hal.

Pertama, definisi startup. Menurut Wikipedia, Startup adalah perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Dalam pandangan gue pribadi, startup adalah segala bentuk usaha atau bisnis. Seperti misalnya, orang yang baru mulai berjualan roti, itu adalah startup. Orang yang memulai usaha laundry, itu juga startup. Bahkan sekarang kita lihat ada banyak orang yang menjual kopi susu kekinian, itu juga startup, atau lebih tepatnya food startup. Saat ini yang sedang ngetrend adalah startup yang pake teknologi digital dalam menjalankan usahanya atau biasa disebut digital startup.

Kedua, alasan memulai startup. Bagi gue, membangun startup itu dilakukan sebagai bentuk inisiatif untuk mewujudkan sesuatu yang tidak bisa diwujudkan dalam lingkungan yang kita ga punya kendali di dalamnya. Kalo lo berada di lingkungan dimana lo merasa happy, lo melakukan hal-hal yang menjadi impian lo, dan lo paham banget apa yang harus lo lakukan ke depannya, maka menurut gue lo udah berada di tempat yang tepat dan ga perlu untuk bikin startup.

Alasan gue memutuskan untuk mendirikan startup sebenarnya sangat sederhana. Gue merasa ada excitement yang hilang setelah gue memasuki dunia profesional selama lebih satu dekade. Flashback sedikit, waktu gue kuliah dulu gue pernah bikin suatu aplikasi kecil yang dipake oleh teman-teman gue. Mereka suka dengan aplikasinya dan mereka sering ngasih feedback ke gue apa aja yang harus diperbaiki. Ini bikin gue bangun pagi dengan perasaan excited karena gue tau ada banyak orang yang nunggu perbaikan dari aplikasi yang gue bikin. Sensasi ini mulai hilang sejak gue masuk dunia profesional, bekerja dari pagi sampai malam, membangun teknologi untuk membantu korporasi. Walaupun gue bekerja di bidang yang gue senangi, yaitu programming, tapi makin lama gue makin jauh dari excitement yang pernah gue dapatkan waktu itu. Ketika gue menyadari ini, gue memutuskan untuk resign dari kantor dan memulai startup cuma agar gue bisa kembali pada momen dimana gue bangun pagi dan merasa excited.

Ketiga, ini bukan jalan pintas. Apa yang gue sampaikan disini bukan cara yang paling tepat dan cocok untuk semua orang. Kadang lo harus menemukan sendiri cara yang benar-benar cocok buat lo, tergantung dari kondisi hidup lo dan lingkungan lo.

Tapi gue harus akui memulai startup itu ga mudah. Gue pribadi butuh waktu lebih dari 5 tahun sejak gue punya keinginan untuk bikin perusahaan sampe akhirnya gue benar-benar siap. Berikut ini gue akan share tentang langkah-langkah yang dilakukan agar lebih mudah untuk memulai sebuah startup.

Disclaimer: gue tidak sepenuhnya melakukan langkah-langkah ini tapi belajar dari pengalaman dan kesalahan gue sewaktu memulai startup, gue rasa ini adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk memulai sebuah startup dengan aman. Dan langkah itu dimulai dengan…


1 – Mempersiapkan diri sendiri

Sebelum memulai startup, kita harus lebih dulu mempersiapkan diri kita biar ga kaget waktu masuk dunia startup. Ini hal-hal yang perlu kita siapkan.

Mental

Begitu kita memutuskan untuk memulai sebuah startup, artinya kita siap untuk meninggalkan kenyamanan yang saat ini kita punya. Siap-siap dengan pendapatan yang menurun drastis, gaya hidup yang seadanya, ga boleh konsumtif, dan hidup lebih irit bahkan ada kemungkinan berhutang. Untuk itu lah, harus ada alasan yang cukup kuat dari diri sendiri kenapa harus mendirikan startup. Kalo lo udah berkeluarga, maka lo juga harus menjelaskan ke keluarga lo tentang dunia startup dan resikonya. Tempatkan keluarga sebagai tim, jadi mereka berhak untuk tahu rencana lo agar mereka bisa ikut mempersiapkan sesuatu yang diperlukan untuk bertahan hidup selama lo memulai startup walaupun itu hanya sebatas doa. Dalam pengalaman gue, doa dari orang tua terutama ibu sangat dahsyat dampaknya. Selalu selipkan doa orang tua dalam setiap keputusan penting yang lo ambil dalam hidup lo.

Dan pastikan lo punya keyakinan yang tinggi terhadap ide lo sendiri, bahkan kalo perlu fanatik terhadap ide lo biar lo punya semangat pantang menyerah dalam mewujudkan ide lo, karena mendirikan startup adalah perjuangan yang melelahkan dan butuh pengorbanan. Di awal berdirinya startup, mungkin lo akan bertemu dengan orang-orang yang suka dengan ide lo, tapi ga jarang lo juga akan berhadapan dengan orang-orang yang menentang ide lo, menganggap ide lo konyol dan ga mungkin berhasil. Kadang mereka bukan orang-orang sembarangan, tapi orang-orang pintar yang punya pengaruh. Sehingga tanpa alasan dan keyakinan yang kuat kemungkinan besar lo akan berpikir ide lo memang buruk dan memutuskan untuk menyerah. Ini kan namanya buang-buang waktu doang. Belum lagi pas udah jalan akan ada banyak kegagalan yang bakal bikin kita down. Kalo secara mental belum kuat, mending ga usah berpikir bikin startup deh.

Tabungan

Mempersiapkan tabungan itu penting banget untuk memastikan lo dan juga keluarga lo, istri dan anak lo, bisa bertahan hidup setidaknya 3 sampai 6 bulan, tentunya dengan biaya hidup yang seminimal mungkin. Ini akan lebih mudah kalo lo belum berkeluarga. Kalo gue pribadi waktu itu memulai startup dengan tabungan yang ga begitu banyak, tapi untungnya istri gue punya pendapatan yang cukup untuk menopang hidup kami berdua, dengan biaya hidup yang minimalis tentunya hehe.

Pengetahuan dasar manajemen

Membangun startup itu bukan cuma tentang membuat aplikasi, tapi juga mengelola perusahaan. Setidaknya kuasai satu hal dasar penting dalam pengelolaan usaha, yaitu pengelolaan keuangan. Di awal mendirikan startup, gue sempat berdiskusi dengan beberapa mantan teman kerja gue di kantor yang menguasai tata kelola keuangan dan gue belajar langsung dari mereka gimana caranya mengelola kas perusahaan biar sehat. Biar lebih gampang belajarnya, gue kadang suka minta contoh catatan keuangan yang gue bisa jadikan acuan.

2 – Menemukan masalah

Kok menemukan masalah? Bukannya nyari ide buat startup?

Karena pada dasarnya sebuah ide itu lahir didasari oleh masalah. Nadiem Makarim punya ide untuk bikin gojek karena melihat permasalahan kemacetan di Jakarta yang ga kunjung selesai sehingga untuk setiap orang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain butuh waktu lama dan biayanya mahal. Ahmad Zaki punya ide untuk bikin Bukalapak karena melihat ada banyak tetangganya di kampung yang berdagang kecil-kecilan tapi tidak berkembang walaupun sudah berjalan puluhan tahun. Gue sendiri punya ide untuk bikin Qasir karena gue melihat beberapa orang-orang dekat gue kesulitan untuk mengelola usahanya karena ga dibantu oleh sistem. Bagi mereka sistem untuk dagang masih terlalu mahal. Bahkan abang gue sendiri secara rutin meminta gue buatkan aplikasi untuk mengelola usahanya. Lalu bagaimana cara menemukan masalah yang bisa dijadikan ide untuk startup?

Peka terhadap kondisi lingkungan

Coba perhatikan baik-baik, apa yang salah dengan kondisi sekitar kita? Apa yang banyak dikeluhkan oleh orang-orang? Semakin banyak orang yang mengeluhkan tentang sesuatu, semakin besar permasalahannya, maka semakin baik juga ide yang akan muncul.

Temukan masalah nyata

Temukan masalah nyata yang timbul, masalah yang cukup mengganggu oleh orang-orang disekitar kita sehingga kalo ada orang yang bisa menghilangkan gangguan itu maka akan ada banyak orang yang akan berterima kasih. Bisa dimulai dari hal yang sederhana dan paling dekat dengan hal yang kita suka. Misalkan lo punya hobi musik, menurut lo apa yang sering dikeluhkan oleh teman-teman musisi? Apakah mereka kesulitan untuk menemukan ide komposisi musik untuk lagu terbaru mereka? Apakah susah nyari job manggung? Susah nyari produser buat produksi lagu-lagu mereka? Masalah yang muncul dari bidang atau hal-hal yang kita suka akan lebih terasa nyata buat kita karena kita bisa merasakan keresahannya dan bikin kita bisa lebih semangat untuk nyari solusinya.

Kritisi pola yang tidak efisien

Kritisi pola yang tidak efisien yang terjadi disekitar lo. Kalo diperhatikan ada banyak proses yang terjadi disekitar kita yang ga efisien sehingga butuh waktu, energi dan biaya yang lebih besar. Esensinya adalah untuk menemukan apa yang bisa dioptimalkan supaya prosesnya bisa lebih cepat, lebih mudah, dan yang paling penting lebih hemat biaya.

Hindari import ide dari Silicon Valley

Dan ada lebih banyak lagi cara untuk menemukan masalah yang akan melahirkan ide cemerlang untuk sebuah startup. Tapi kalo bisa hindari mengambil ide startup dari Silicon Valley karena Indonesia adalah pasar yang unik, apa yang berhasil di Silicon Valley belum tentu berhasil di Indonesia. Inilah alasannya mengapa beberapa perusahaan dari luar yang masuk ke Indonesia lebih memilih untuk menanamkan modalnya di perusahaan lokal ketimbang membuka cabang di Indonesia. Menurut gue akan lebih baik kalo kita bisa mendirikan startup yang memberikan solusi yang secara spesifik dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia karena dengan 270 juta jiwa, Indonesia adalah pasar yang cukup besar baik startup lokal maupun internasional.

3 – Validasi ide

Setelah kita menemukan solusi dari suatu masalah sebagai ide startup kita, maka selanjutnya kita perlu melakukan validasi, apakah ide kita benar-benar menyelesaikan permasalahan dari calon pengguna kita? Suatu ide divalidasi dengan melakukan serangkaian riset dan eksperimen singkat dan sederhana untuk memastikan ide bisa diterima dengan baik dan berpotensi untuk menghasilkan pendapatan.

Siklus dari validasi ide ini terdiri dari 3 fase: build, measure, dan learn.

BUILD: membuat sebuah prototype yang bisa langsung dijalankan atau biasa disebut MVP (Minimum Viable Product). MVP disini tidak harus sebuah aplikasi, bisa berupa alur proses bisnis, atau sebuah spreadsheet sederhana untuk mencatat transaksi juga bisa.

MEASURE: mengumpulkan data-data penting pada saat menjalankan MVP dengan ukuran tertentu.

LEARN:berdasarkan data yang dikumpulkan, kita bisa melihat apa yang berjalan dengan baik dan apa yang tidak. Hasil dari pembelajaran ini bisa kita pake untuk mengambil keputusan bisnis berikutnya. Kalo hasilnya baik maka kualitas produknya ditingkatkan, kalo tidak maka cari alternatif cara lain yang lebih baik atau biasa disebut pivot.

Proses diatas dilakukan berulang-ulang sampai kita mendapatkan MVP yang terbukti menyelesaikan hal dasar dari permasalahan kompleks yang dialami pengguna awal dan juga punya potensi penghasilan yang cukup baik untuk membuat startup kita bisa bertahan.

Contoh validasi ide: Online Catering

Fase BUILD nya adalah menyiapkan menu masakan dan mulai menerima pesanan lewat IG / WA.

Kemudian di fase MEASURE kita coba cek data yang kita dapat seperti berapa pesanan yang kita terima per hari? Berapa pesanan masuk dari masing-masing channel? Berapa banyak yang menanyakan menu dan akhirnya memesan makanan?

Pada fase LEARN, berdasarkan data yang kita kumpulkan ternyata pesanan lebih banyak masuk lewat WA dan untuk meningkatkan jumlah pesanan, ternyata kita bisa pake fitur broadcast dari WA for Business. Balik lagi ke BUILD dimana kita mulai pake WA for Business untuk berinteraksi dengan pelanggan dengan mengirimkan broadcast message dan mengaktifkan fitur auto reply.

Dan begitu seterusnya sampe kita ngerasa secara proses sudah cukup efisien dan pesanan sudah mulai masuk dalam jumlah yang optimal. Barulah disitu teknologi yang lebih canggih mulai dibutuhkan. Membuat aplikasi sejatinya dilakukan untuk membuat otomasi dari proses yang kita lakukan secara manual. Untuk memudahkan proses validasi ini, kalian bisa gunakan Lean Canvas sebagai panduan.

4 – Mendapatkan pendanaan

Setelah kita punya MVP atau aplikasi sederhana yang sudah terbukti menyelesaikan permasalahan dasar dari pengguna awal kita, maka selanjutnya kita membutuhkan pendanaan untuk operasional dan mengembangkan solusi kita. Untuk mendapatkan pendanaan di awal, umumnya bisa didapatkan dari 3F: Family, Friends, Fools. Kita bisa dapat pendanaan dari keluarga kita, teman-teman dekat kita, atau orang baik yang mau ngasih uang untuk bantu usaha kita. Kalo gue pribadi dulu dapat dana dari abang gue di awal bikin startup dan gue kasih dia share. Nominalnya sih ga gede, tapi cukup untuk gue bisa setup kantor sederhana dan bayar gaji karyawan beberapa bulan.

Selain 3F, kita juga bisa mendapatkan pendanaan dari Angel Investor dan Venture Capitalist atau VC. Secara sederhana, Angel Investor adalah individu yang biasa melakukan investasi terhadap bisnis tertentu dengan nilai investasi yang tidak terlalu besar. Sedangkan Venture Capitalist adalah badan usaha yang mengelola uang dari beberapa investor, yang biasa disebut sebagai Limited Partners, untuk disalurkan ke startup yang potensial dan sedang berkembang dengan nilai investasi yang beragam.

Untuk bisa mendapatkan pendanaan baik dari Angel Investor atau VC, kita harus persiapkan dokumen pendukung, minimal pitch deck dan business plan. Pitch deck adalah presentasi mengenai ide startup yang sedang kita bangun sedangkan business plan berisi perencanaan keuangan perusahaan 1 atau 2 tahun ke depan untuk investor bisa menilai apakah pertumbuhan startup ke depannya akan menarik atau tidak. Contoh pitch deck dan business plan bisa kalian download di sini.

5 – Eksekusi

Nah, setelah kita mendapatkan pendanaan, bisa dibilang perjalanan startup kita udah benar-benar dimulai. Artinya kita udah mulai harus lebih serius lagi menjalankan startupnya. Kalo lo belum resign, ini saat yang tepat untuk resign dari kantor dan mengurus hal-hal penting seperti sewa kantor, mengurus legalitas, membuka rekening, dan lain-lain. Kalo mau mendapatkan pendanaan dari Angel Investor atau VC, maka pengurusan legalitas dan pembukaan rekening sebaiknya dilakukan sebelum pitching. Masuknya pendanaan seperti mobil yang baru isi bensin, saatnya tancap gas dalam mengeksekusi ide yang sudah kita validasi.

Mulai lakukan otomasi dari serangkaian aktivitas bisnis dengan teknologi. Kalo dari contoh Online Catering di atas, yang awalnya menerima order via WA, maka selanjutnya sudah mulai bisa menerima order melalui aplikasi dan diproses melalui aplikasi juga. Setiap kali suatu fitur dilemparkan ke pengguna, selalu dievaluasi hasilnya. Fiturnya dipake ga sama user? Apakah mereka ada kesulitan untuk pake fiturnya? Temukan apa yang salah dari fitur tersebut, perbaiki, lalu lempar lagi ke pengguna. Proses iterasi ini perlu dilakukan dengan cepat agar pengguna tidak keburu kabur. Kalo setelah berjalan beberapa waktu dan ternyata eksekusi kita tidak membawa potensi pendapatan, maka kita perlu melakukan pivot dan mengubah model bisnis. Proses eksekusi dan iterasi ini akan lebih mudah dilakukan kalo dibantu dengan Business Model Canvas.


Penutup

Tahun 2015, Forbes merilis artikel yang menyebutkan bahwa 9 dari 10 startup gagal. Dalam memulai startup itu, gagal adalah hal yang lumrah. Jadi, jangan takut untuk gagal karena itu adalah sebuah keniscayaan. Dahlan Iskan pernah bilang, kalo memulai usaha, semakin cepat menemukan kegagalan semakin baik karena artinya kita belajar lebih cepat tentang apa yang salah. Gagal bukan berarti berhenti sama sekali lho ya. Gagal bisa jadi kita cuma salah jalan dan butuh pivot kecil untuk memperbaikinya.

Bagi kalian yang udah punya niat untuk bikin usaha pas baca artikel ini, semoga dilancarkan jalannya. SEMANGAT! 💪🏻

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *